Hasil Kajian Studi Mengenai Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Di Lingkungan XIV Kelurahan Sei Agul Kecamatan Medan Barat
Hasil Kajian Studi Mengenai Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Di Lingkungan XIV Kelurahan Sei Agul Kecamatan Medan Barat
MHD Luthfi Yarsi Alhusaini Lubis
230902026
Universitas Sumatera Utara
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat merupakan suatu lembaga di suatu institusi yang bertujuan untuk menjadi wadah dan media untuk masyarakat agar dapat menampung aspirasi dan kebutuhan yang menjadi kebutuhan masyarakat di lingkungan sekitar. Kajian ini dilakukan untuk meninjau bagaimana lembaga pemberdayaan masyarakat itu berjalan di lingkungan XIV Kelurahan Sei Agul dan dapat menjadi bahan evaluasi jika sewaktu-waktu diperlukan. Kajian tersebut meliputi bagaimana lembaga pemberdayaan masyarakat, permasalahan apa yang terjadi, apa saja program programnya, dan evaluasi dan solusi bagaimana yang dapat diterapkan di lingkungan XIV tersebut. Kajian studi tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara yang mendalam terhadapa salah satu tokoh warga, yaitu kepala lingkungan XIV. Kajian studi ini diperlukan untuk menarik sumbangsih warga agar lebih aktif dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Kata kunci: pemberdayaan, kualitatif, program
PENDAHULUAN
Pemberdayaan masyarakat oleh Slamet (2000) diartikan sebagai proses penyuluhan pembangunan yang oleh Mardikanto (2003) diartikan sebagai Proses perubahan sosial, ekonomi, dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan masyarakat melaui proses belajar bersama yang partisipatif, agar terjadi perubahan perilaku pada diri semua stakeholder (individu, kelompok, kelembagaan) yang terlibat dalam proses pembangunan demi terwujudnya kehidupan yang semakin berdaya, mandiri dan partisipatif yang semakin sejahtera secara berkelanjutan. Sedangkan menurut Widjaja (2003:169) pemberdayaan masyarakat adalah upaya meningkatkan kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat, sehingga masyarakat dapat mewujudkan jati diri, harkat dan martabatnya secara maksimal untuk bertahan dan mengembangkan diri secara mandiri baik di bidang ekonomi, sosial, agama dan budaya. Menurut Sumaryadi (2005:11) pemberdayaan masyarakat adalah "upaya mempersiapkan masyarakat seiring dengan langkah upaya memperkuat kelembagaan masyarakat agar mereka mampu mewujudkan kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan dalam suasana keadilan sosial yang berkelanjutan". Lembaga pemberdayaan masyarakat ini merupakan suatu wadah atau lembaga yang dibentuk atas kebutuhan masyarakat mengenai fasilitasi pemerintah untuk menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam pembangunan. Lembaga ini juga berperan sebagai mitra kelurahan atau desa dalam menyusun rencana pembangunan partisipatif, menggerakkan swadaya masyarakat, dan melaksanakan dan mengendalikan pembangunan. Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan merupakan suatu kegiatan meningkatkan kekuasaan kepada masyarakat yang kurang beruntung secara berkesinambungan, dinamis, serta berupaya untuk membangun daya itu untuk mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran masyarakat agar ikut serta terlibat dalam mengelola semua potensi yang ada secara evolutif. Pemberdayaan masyarakat sangat penting dan merupakan hal yang wajib untuk dilakukan mengingat pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang demikian pesatnya belakangan ini akan sangat mempengaruhi kemampuan tiap individu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (A. Mustanir & Jaya, 2016) (A. Mustanir & Lubis, 2017a) (A. Mustanir & Abadi, 2017) (A. Mustanir, 2017a) (A. Mustanir, 2018b) (A. Mustanir, 2017b). Untuk itu masyarakat luas diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman dengan adanya pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk: a) Melahirkan individu-individu yang mandiri dalam masyarakat. b) Menciptakan lingkungan yang memiliki etos kerja yang baik sehingga mampu menciptakan kondisi kerja yang sehat dan saling menguntungkan. C) Menciptakan masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi akan potensi diri dan lingkungan di sekitarnya dengan baik. D) Melatih dan memampukan masyarakat untuk melakukan perencanaan dan pertanggung jawaban atas tindakan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. E) Menambah kemampuan berpikir dan bernegosiasi atau mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang mungkin ditemui dalam lingkungannya. E) Memperkecil angka kemiskinan dengan cara meningkatkan potensi dan kemampuan dasar yang dimiliki masyarakat. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat antara lain: a) Seleksi lokasi di mana diadakannya kegiatan pemberdayaan. b) Sosialisasi yang bertujuan untuk terjalinnya komunikasi antara masyarakat dan pihak pelaksana pemberdayaan. c) Proses pemberdayaan masyarakat itu sendiri, yang terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. d) Tahap akhir berupa pemandirian masyarakat. Kajian studi yang dilakukan di lingkungan XIV ini guna untuk meninjau bagaimana pemberdayaan yang dilakukan pejabat setempat seperti contoh kepala lingkungan apakah berjalan dengan baik atau tidak.
Rumusan masalah
a. Bagaimana Lembaga pengembangan masyarakat di Lingkungan XIV
b. Apa Saja Permasalahan yang terjadi dan bagaimana penanganan yang dilakukan
c. Apa saja Program Program yang dijalankan dalam hal pemberdayaan masyarakat
d. Bagaimana Evaluasi program dan solusi yang dilakukan
Metode Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Jalan Persatuan linkungan XIV Kelurahan Sei Agul Kecamatan Medan Barat. Adapun pengambilan data dilakukan secara observasi dan prosesi wawancara yang berlangsung dengan kepala lingkungan XIV tersebut. Observasi Prosesi Wawancara dilakukan melalui Teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan pertanyaan, percakapan dan tanya jawab secara lisan dan langsung dengan tatap muka. Hasil wawancara dijadikan sebagai bahan penganalisaan untuk dijadikan tinjauan ulang. Hal ini untuk mengetahui pandangan, pendapat, keterangan yang didapatkan dan dialami oleh informan. Informan dalam kajian studi ini adalah kepala lingkungan XIV, pak Bima Nasution yang terlibat langsung dalam program pemberdayaan masyarakat tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Di Lingkungan XIV Kelurahan Sei Agul
Kecamatan Medan Barat
Berdasarkan hasil wawancara kemarin, fokus studi saya yaitu Lembaga pemberdayaan masyarakat yang dimana di lokasi penelitian saya tersebut terdapat 2 (dua) lembaga disana. Pak bima menjawab dengan baik pertanyaan saya
“ mengenai lembaga pengembangan masyarakat Lingkungan IV ini sejauh ini terdapat dua jenis LPM, Yaitu PKK dan Siskamling.”
Fokus yang dibangun pada lokasi kajian saya tersebut berfokus pada tiga topik bahasan, yaitu keluaarga, perempuan dan anak, serta keamanan Lingkungan. Yang kemudian beliau melanjutkan jawabannya
“ fokus kami di lingkungan XIV ini pada hal keluarga dan keamanan. Makannya lembaga yang kami miliki terdapat PKK dan siskamling. Pada PKK kami memiliki beberapa kegiatan, seperti aktivitas posyandu rutin tiap bulanan dan cek rutinitas kesehatan lansia. Aktivitas posyandu rutin tiap bulan ini merupakan kegiatan yang kami lakukan berfokus pada keluarga dan anak. Pada keluarga, kami mengadakan program keluarga berencana, penyuluhan kesehatan dan pemantauan terhadap ibu yang sedang hamil. Pemantauan ini dilakukan agar keluarga aman dan nyaman. Pada anak, kami cek setiap bulan terkait imunisasi guna untuk anak terhindar dari penyakit-penyakit di masa mendatang. Untuk cek rutinitas kesehatan lansia, Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan status gizi, tekanan darah, fungsi penglihatan dan pendengaran, rongga mulut, status kognitif dan mental, serta kelengkapan imunisasi. Cek rutin kesehatan lansia penting sekali untuk mendeteksi dini masalah kesehatan dan memastikan kesejahteraan mereka. Dengan melakukan pemeriksaan rutin, lansia dapat menjaga kesehatan mereka dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Terkait yang kedua, siskamling. Siskamling di lingkungan kami melibatkan partisipasi dari warga dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan tempat tinggal. Siskamling juga fungsinya kan agar masyarakat sadar akan pentingnya menjaga keamanan kampng kita dan biar ada rasa memiliki lah mereka dan tanggung jawabnya terhadap lingkungan sekitar.”
Jawaban dari beliau dapat saya simpulkan bahwa pejabat lingkungan XIV disini diskusi fokus dan awareness mereka terletak pada keluarga dan keamanan. Untuk keluarga sendiri, penyuluhan kesehatan menjadi poin penting karena sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan kesadaran mereka terhadap kesehatan, mengubah perilaku menuju gaya hidup sehat, mencegah penyakit, dan penyulhan kesehatan ini juga membantu mengenali gejala penyakit lebih cepat sehingga masyarakat dapat mencari pertolongan medis dengan segara jika sewaktu-waktu terjadi. Fokus selanjutnya terhadap lansia yang dimana cek kesehatan lansia juga tidak kalah penting seperti apa yang dikatakan beliau. Fokus kesehatan lansia itu juga menjadi kunci agar warga lansia dapat melanjutkan keberlangsungan hidupnya. Lembaga pemberdayaan selanjutnya terdapat pada siskamling. Dapat dilihat melalui tingkat kriminalitas kota medan sendiri. Berdasarkan data pada 2024 dari sejumlah Polrestabes Medan yang dihimpun dari sejumlah media massa, Polrestabes mengumumkan ada sebanyak 9.289 kasus tindak pidana selama periode 2023. Jumlah kasus ini meningkatkan dibandingkan periode 2022 mencapai 7.358 kasus. Dari data tersebut, menjadi fokus utama juga untuk bagaimana menjaga keamanan lingkungan setempat. Pejabat lingkungan XIV tersebut sadar akan pentingnya menjaga keamanan warganya dan itu merupakan sebuah bentuk partisipasi pejabat yang berkolaborasi dengan warga setempat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
B. PERMASALAHAN DAN PENANGANAN YANG DILAKUKAN
Berdasarkan informasi hasil wawancara, permasalahan yang terjadi di Lingkungan XIV tersebut meliputi perceraian atau kekerasan dalam rumah tangga, Pencurian, dan kasus sangat minimnya kebersihan lingkungan. beliau memberikan statement yang lugas terkait permasalahan di lingkungannya.
“untuk pertanyaan ini, aku kasih gambaran mengenai lingkunganku. Di lingkungan ini, ada beberapa permasalahan yang sering terjadi kayak perceraian atau kekerasan dalam rumah tangga, pencurian beberapa kali, dan kasus kebersihan yang sangat minim dari warga dan terkadang saya sendiri juga menyadari.”
Terkait penanganan yang dilakukan, pejabat lingkungan XIV mencanangkan berbagai cara untuk menangani permasalahan tersebut.
“nah makannya kalau mengenai perceraian atau kekerasan dalam rumah tangga, aku mencoba turun lansung bersama para warga untuk segera menenangkan. Selalu ditanyakan mengapa sering terjadi pertengkaran jawabannya pasti tentang konflik ekonomi dan perselingkuhan. Kalau soal pencurian, kami bersama warga setempat sebagian dari siskamling dan warga lokal turut saling bekerja sama untuk membasmi para pencuri dan Alhamdulillah sampe sekarang angka pencurian sudah terminimalisir. Kalau terkait kebersihan yang saya bilang tadi, banyak sekali oknum yang tidak sadar akan pedulnya kebersihan lingkungan. Sampah puntung rokok dan jajan-jajanan chiki masih menjadi sebuah masalah di lingkungan kami sehingga daripada itu aku pengen coba juga buat penyuluhan tentang kesadaran lingkungan Cuma belum sempat-sempat terealisasikan.”
Penanganan seperti pernyataan beliau diatas menunjukkan bahwa concern beliau terhadap pemasalahan ini dengan melalui penanganan yang bersifat jangka pendek. Seperti pada penanganan masalah perceraian, beliau memberikan terapi psikologi seperti menenangkan pihak keluarga agar emosi yang ditimbulkan mereda. Keuntungannya juga dari skala besar agar masyarakat terhindar dari polusi suara agar memberikan kenyamanan warga lainnya. Masalah pencurian juga dari pernyataan beliau memberikan dampak dari cara penanganannya. Dengan mengajak partisipasi warga bekerja sama dalam membasmi angka kriminal, akan menekan angka tingkat kriminalitas semakin berkurang. Kebersihan lingkungan juga menjadi bentuk kekhawatiran pejabat lingkungan lantaran dikarenakan sangat minimnya kebersihan yang dilakukan warga bahkan dirinya mengakui sendiri akan minimnya kebersihan yang mereka lakukan. Dilansir dari World Health Organization (WHO, kebersihan lingkungan juga menjadi bentuk kesehatan yang dimana suatu keseimbangan ekolongi yang ada antara manusia dan lingkungan dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Maka dari itu, pejabat lingkungan kemudian mengajak aksi gotong royong bersama warga setiap minggu dan meracang program untuk melakukan penyuluhan kesehatan. Program tersebut baik jika terlaksana Karena jika terlaksananya program tersebut, dapat membuat warga lebih sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan.
C. PROGRAM-PROGRAM YANG DIJALANKAN
Menurut Hans Hochholzer dalam E Hetzer (2012 : 11), Program merupakan kumpulan kegiatan nyata, sistematis, dan terpadu yang dilaksanakan oleh suatu atau beberapa instansi pemerintah dalam rangka kerjasama dengan swasta dan masyarakat guna mencapai tujuan dan sarana yang ditetapkan. Suatu program disusun berdasarkan atas tujuan ataupun target yang ingin dicapai. Susunan perencanaan programprogram tersebut disebut sebagai program kerja. Pak Bima Nasution selaku kepala lingkungan XIV menjelasakan bagaimana program program yang sedang terealisasikan.
“ kalau program disini itu ada 3 program unggulan, program asuransi BPJS ketenagakerjaan dari pusat, setelah itu ada lagi aparatur nanti akan saya jelaskan, dan terakhir, program gotong royong rutin tiap minggu.”
“nah, izin saya jelaskan. Program BPJS ketenagakerjaan ini sebenarnya bukan program yang kami buat, tetapi melalui pusat lalu diinformasikan ke data kelurahan setalah itu baru sampai kepada kami. Program ini sangat membantu masyarakat mengapa? Karena program ini merupakan program yang menguntungkan bagi masyarakat. Satu program yang unik dari kami itu ada aparatur. Aparatur ini lebih tepatnya kayak ojek. Program ini kami rancang untuk mempermudah warga yang ingin mengurus berkas surat atau apapun itu ke kelurahan. Tujuan intinya ya untuk mempermudah masyarakat saja mengarah pada bidang transportasi public. Nah yang terakhir itu, gotong royong. Gotong royong disini kami perketat yang awalnya berdasarkan kemandirian namun belakangan kami perketat lagi semua warga lingkungan berhadir. Jikalau tidak, akan dikenakan denda/ sanksi sosial. Sebenarnya bukan mengarah kepada keketatan atau pembatasan masyarakat untuk mengatakan tidak ikut berpartisipasi, namun ini juga memantik semangat warga untuk mengetahui betapa pentingnya kesadaran lingkungan. Untuk semua program berjalan lancar, namun beberapa hambatan paling seperti pada BPJS ketenagakerjaan, data masih terlalu lama masuk ke pihak lingkungan sehingga warga belum kebagian kartu tersebut.”
Program BPJS Ketenagakerjaan menjadi kunci utama bagi warga agar terjamin dan terlaksananya kehidupan masyarakat yang sejahtera. Namun, informasi yang disampaikan sampai kepada tangan ketika seperti di lingkungan masih menjadi hambatan utama dikarenakan masih sangat kurangnya transparansi informasi yang diberikan membuat warga khawatir akan tidak tersampainya program yang seharusnya sangat menguntungkan bagi mereka. Program yang mereka miliki selanjutnya adalah aparatur. Program ini menarik awalnya bagi penulis karena melihat jarang sekali ada program yang seperti ini. Aparatur menurut beliau sendiri adalh sebuah transportasi publik yang disediakan oleh kepala lingkungan dengan tujuan untuk mempermudah warga ketika tidak memiliki kendaraan untuk mengurus surat surat ke kantor lurah. Program ini jelas sangat mempermudah warga atas keberlangsungan urusan-urusan warga. Namun, program ini harus menjadi evaluasi untuk kepala lingkungan terkait apakah transportasi tersebut selalu tersedia ketika warga yang ramai berbondong–bondong menggunakan pelayanan tersebut. Untuk program terakhir, gotong royong menjadi pemantik warga atas kurangnya kebersihan yang dilakukan warga yang terletak pada pokok permasalahan utama. Dengan diberlakukan sanksi untuk warga yang tidak ikut berpartisipasi, bukan untuk dijadikan tidak adanya kebebasan berekspresi warga, namun justru menjadi pemantik semangat warga untuk bersama sama menyadari pentingnya kebersihan lingkungan sekitar untuk terciptanya warga yang sadar lingkungan dan lingkungan yang asri. Namun pasti terdapat kelemahan dari program ini. Salah satunya adalah konflik sosial yang akan terjadi. Kepala lingkungan juga belum bisa memastikan dampak buruk dari program ini yang seharusnya dapat dievaluasi oleh beliau.
D. EVALUASI
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat yang terlaksana di lingkungan XIV tersebut perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut.
Pada bagian lembaga pemberdayaan masyarakat yang harus dilakukan seperti:
a. Lembaga PKK harus memiliki lembaga turunan seperti lembaga yang menangani masalah perceraian dan ketika ada masalah keluarga seperti yang disebutkan oleh kepala lingkungan. lembaga ini sebenarnya dapat menjadi bahan tinjauan apakah dengan diberlangsungkan lembaga ini dapat berhasil atau tidak dan yang pastinya diperlukan SDM yang kompeten dalam menangani hal tersebut
b. Siskamling dapat menjadi bahan tinjauan ulang karena dibutuhkannya partisipasi warga yang lebih seiring meningkatnya angka kriminalitas yang terjadi di kota medan
program program yang dijalankan perlu dilakukan evaluasi untuk ditinjau ulang seperti:
a. pada bagian program BPJS, kepala lingkungan harus turut ikut cek secara langsung. Karena dengan tokoh langsung turut serta dalam transparansi data pada program tersebut, membuat warga akan merasakan nyaman dan program tersebut sampai ke tangan mereka langsung
b. pada program aparatur, kepala lingkungan tidak menjelaskan kapasitas kendaraan yang dimiliki apakah sepadan dengan kebutuhan warga ketika berbondong-bondong ingin menggunakan pelayanan tersebut. Program ini harus ditinjau ulang oleh kepala lingkungan untuk keberlangsungan program tersebut
c. pada program gotong royong, dengan diberlakukannya sanki sosial atau denda, apakah program tersebut dapat berlangsung tanpa adanya konflik sosial yang terjadi. Kepala lingkungan harus mengevaluasi lebih lanjut terkait dampak buruk yang akan terjadi demi keberlangsungan program
E. KESIMPULAN
Kajian ini meninjau pelaksanaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) di Lingkungan XIV, Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, dengan tujuan untuk mengevaluasi efektivitasnya. Berdasarkan wawancara mendalam dengan kepala lingkungan, Bapak Bima Nasution, diperoleh beberapa poin kesimpulan utama:
1. Lembaga Pemberdayaan yang Berjalan: Di lingkungan tersebut, terdapat dua lembaga pemberdayaan masyarakat yang aktif, yaitu:
a. PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga): Fokus pada kesehatan keluarga, anak, dan lansia melalui kegiatan seperti Posyandu bulanan, program Keluarga Berencana (KB), penyuluhan, serta pemeriksaan kesehatan rutin bagi lansia.
b. Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan): Melibatkan partisipasi warga dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan untuk menekan angka kriminalitas.
2. Permasalahan Utama yang Dihadapi: Lingkungan XIV menghadapi tiga masalah utama:
- Sosial: Tingginya kasus perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang ditangani secara langsung oleh kepala lingkungan dengan mediasi.
- Keamanan: Adanya kasus pencurian, yang berhasil diminimalisir melalui kerja sama warga dan Siskamling.
- Kebersihan: Rendahnya kesadaran warga akan kebersihan lingkungan, yang ditandai dengan banyaknya sampah.
3. Program Unggulan yang Dijalankan: Untuk mengatasi permasalahan dan memberdayakan masyarakat, tiga program utama dijalankan:
- BPJS Ketenagakerjaan: Program dari pemerintah pusat yang disosialisasikan di tingkat lingkungan untuk memberikan jaminan sosial bagi warga. Hambatannya adalah keterlambatan data.
- Aparatur: Sebuah program unik berupa layanan transportasi (seperti ojek) yang disediakan untuk mempermudah warga mengurus administrasi ke kantor kelurahan.
- Gotong Royong Rutin: Kegiatan kebersihan bersama yang diperketat dengan sanksi (denda/sanksi sosial) bagi yang tidak berpartisipasi untuk meningkatkan kesadaran lingkungan.
4. Evaluasi dan Rekomendasi: kajian studi ini menyimpulkan bahwa meskipun program-program tersebut berjalan, diperlukan evaluasi lebih lanjut:
- Kelembagaan: PKK disarankan membentuk lembaga turunan untuk menangani masalah spesifik seperti perceraian. Siskamling perlu ditingkatkan partisipasinya seiring meningkatnya angka kriminalitas di Medan.
- Program: Kepala lingkungan disarankan untuk lebih proaktif dalam mengawal data BPJS. Program "Aparatur" perlu dievaluasi kapasitasnya, dan program gotong royong perlu dikaji dampak sosialnya untuk menghindari konflik.
Secara keseluruhan, kajian ini menunjukkan adanya upaya pemberdayaan masyarakat yang aktif di Lingkungan XIV, namun masih terdapat ruang untuk perbaikan dalam hal kelembagaan, transparansi informasi, dan evaluasi dampak program agar lebih efektif dan berkelanjutan.
Dokumentasi

Comments
Post a Comment